Hati-hati, Stres Karena Pekerjaan Bisa Percepat Serangan Jantung
ALASEHATKITA – Beban kerja yang menumpuk serta tekanan untuk menyelesaikan sesuai target, membuat orang mudah terkena stres. Bahkan, tak sedikit yang menjadi depresi karena stres yang berkelanjutan.
Stres dan depresi ini menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh daerah SMC RS Tlogorejo Semarang, dr M Yusuf Suseno Sp.JP FIHA mengatakan, stres dan depresi memiliki hubungan yang erat dengan penyakit jantung.
Menurutnya, depresi meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner antara 1,5 hingga 2 kali lipat. Bahkan, salah satu penelitian menghasilkan data yang lebih mencengangkan.
![]() |
| Ilustrasi / Istimewa |
”Risiko kematian karena penyakit jantung meningkat hingga 3,9 kali pada penderita depresi dibandingkan yang tidak,” katanya dikutip dari lama RS Tlogorejo Semarang.
Begitu pula dengan stres. Ia menyebut, beberapa penelitian di jurnal American Heart Association menunjukkan bahwa stres berat yang sifatnya akut meningkatkan risiko serangan jantung.
Dijelaskan dokter Yusuf, depresi menyerang jantung melalui dua pintu. Pintu pertama adalah pengaruh depresi terhadap kehidupan sosial dan kebiasaan sehari-hari.
Penderita depresi biasanya mudah terjebak dalam kebiasaan merokok, dan rokok merupakan salah satu penyebab penyakit jantung koroner. Selain itu, depresi juga membuat lengah. Penderita darah tinggi yang depresi kerap malas untuk meminum obat.
Sementara para penderita diabetes mellitus (diabetisi) yang depresi, biasanya juga lupa mengontrol pola makan dan anjuran dokter. Sedangkan bagi penderita jantung yang depresi akan melupakan obat-obat jantung yang seharusnya diminum secara teratur.
Pintu kedua adalah dari pengaruh depresi terhadap tubuh kita. Depresi membuat kadar hormon kortisol meningkat. Kortisol sendiri merupakan hormon yang membantu menjaga tekanan darah, fungsi kekebalan tubuh dan proses anti-inflamasi tubuh. Depresi juga mengganggu fungsi sel beku darah (trombosit).
“Perpaduan antara peningkatan hormon kortisol dan gangguan fungsi sel beku darah mempercepat proses penyempitan pembuluh darah dan memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah jantung,” papar dokter Yusuf.
Lalu, bagaimana jika depresi terjadi pada penderita jantung koroner yang tak bersedia melakukan kateterisasi jantung, memasang “cincin“ (stent) untuk membuka pembuluh darah yang menyempit serta menolak pembedahan jantung untuk memperbaiki pembuluh darah yang buntu di sejumlah tempat? Berdasarkan hasil penelitian, risiko fatal seperti kematian mencapai 69 persen.
Depresi, dikatakan dokter Yusuf juga menyebabkan terjadinya peningkatan reaksi radang dalam tubuh. “Ini menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Depresi juga menyebabkan terganggunya fungsi otonom tubuh,” ujarnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar depresi dan stres tidak sampai menyerang jantung. Mengubah orientasi hidup bisa menjadi salah satu cara. Perubahan orientasi yang selama ini materialistis ke arah spiritual bisa menghindarkan kita dalam tekanan hidup.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah banyak bersyukur atas segala hal dan memilih bersikap positif menghadapi setiap persoalan yang berpotensi menimbulkan stres.
Baca juga : 3 Olahraga Ini Terbukti Bisa Atasi Stres
Ia menyebut, tuntutan kerja yang semakin tinggi saat ini memang membuat orang mudah terkena stres. Meskipun sesungguhnya stres tidak selalu berimplikasi negatif.
Di dunia kerja misalnya, stres dapat bernilai positif manakala tekanan yang diterima mampu menjadi pemicu untuk menaikkan mutu pekerjaan serta meningkatkan kepuasan yang didapatkan dari pekerjaan.
Namun, jika tekanan tersebut menyebabkan perubahan yang merusak dalam diri, bahkan sampai mengancam kehidupan, saat itulah stres menjadi hal yang negatif.
Sementara depresi adalah gangguan kejiwaan yang lebih berat dibandingkan stres. Kendati memiliki gejala yang hampir mirip, depresi biasanya disertai dengan perubahan suasana hati (mood), seperti perasaan sedih dan putus asa yang sangat dalam. Dibandingkan stres, depresi biasanya juga berlangsung lebih lama.

Posting Komentar untuk "Hati-hati, Stres Karena Pekerjaan Bisa Percepat Serangan Jantung"